Jias, seorang remaja berusia 17 tahun yang berasal dari keluarga yang sangat sederhana, yang beruntung mendapat beasiswa untuk belajar di sekolahku di Bogor. Arsitek adalah cita-citanya. Meskipun selalu diremehkan oleh teman-temannya karena cita-citanya itu, dia tak pernah berhenti mengejar mimpinya. Hanya senyum manis yang tulus dilontarkan dari bibirnya. Tidak pernah takut untuk mencoba apapun walau itu pahit, itu lah Jias.
Hari itu, Senin, kulihat Jias sedang menangis di sudut sekolah. Sebelumnya, saat dia sedang membaca buku di kelas, tiba-tiba datang siswa lain yang tidak suka akan keberadaan Jias di sekolah, merebut buku yang sedang dibacanya, kemudian merobek dan membakarnya. Sambil mencaci Jias dengan kata-kata yang menurutku menyakitkan. Entah apa maksudnya mengucapkan itu, tapi yang jelas, siswa itu mencacinya dengan mengatakan bahwa orang miskin seperti Jias tidak akan bisa meneruskan cita-citanya, ia takkan mampu membayar biaya pendidikan yang semakin mahal. Wajar jika ucapan itu membuat Jias sedih. Tapi, setelah kutahu, Jias sedih bukan karena itu, tapi karena dia harus kehilangan buku kesayangannya.
***
Jias baik sekali padaku, dia mengajariku banyak hal. Memberi tahuku tentang arti kehidupan. Karena itu, aku berusaha untuk menghiburnya. Aku berpikir bahwa satu-satunya cara untuk membuat Jias tersenyum kembali adalah membelikan buku yang sama seperti miliknya.
Esok harinya, kuberikan buku itu kepadanya. Tapi dia menolak. Kali ini aku tahu mengapa ia sangat sedih saat kehilangan bukunya, buku itu amat berarti baginya. Buku itu adalah pemberian kakek yang amat dicintainya. Kakeknyalah yang selalu memberinya semangat untuk mengejar cita-citanya. Dia mengembalikan buku yang kuberikan kepadaku.
Hari-hari berlalu, kulihat senyum manis Jias kembali. Jias memang orang yang tabah. Kehilangan buku kesayangannya bukan berarti dia harus berhenti berjuang. Pulang sekolah ku ajak Jias ke toko buku untuk menemaniku membeli beberapa buku. Diperjalanan, di sudut pasar yang ramai akan pengunjung, tiba-tiba saja Jias berhenti, menatap sebuah poster bergambar Albert Einstein, seorang ilmuwan yang terkenal dengan teori relativitasnya.
Jias berbisik kepadaku,”suatu saat aku pasti bisa seperti dia, aku yakin itu”.
Aku hanya diam mendengarnya. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke toko buku. Aku berniat membelikan Jias sebuah buku tentang desain bangunan. Aku yakin buku itu akan sangat membantu Jias untuk berkreasi lebih baik lagi. Setelah membeli beberapa buku, kami pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, aku memikirkan ucapan Jias. Semangatnya mengejar cita-cita begitu tinggi, aku yakin suatu hari dia akan buktikan pada dunia bahwa dia bisa mencapai cita-cita yang diinginkan, yaitu arsitek, tanpa keluar biaya yang tinggi. Karena dia tak mau merepotkan orangtuanya.
***
Suatu hari, kepala sekolah mengumumkan beasiswa untuk belajar di Universitas ternama di Jerman. Jias pun mencoba untuk mendaftar. Teman-teman lain bertanya apa Jias bisa mendapat beasiswa itu?? Orang miskin seperti dia mana bisa membayar biaya pendaftaran yang begitu mahal baginya. Aku ingin sekali membantunya membayar biaya itu, tapi dia selalu menolak bantuanku. Jias berusaha mencari uang dengan bekerja, membanting tulang untuk mendapat uang sebesar dua juta rupiah. Pulang sekolah kulihat Jias sedang menjajakkan Koran di lampu merah. Aku pun menghampirinya. Kami berdua duduk di sebuah halte bus yang tak jauh dari lampu merah itu. Saat kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang salah satu teman sekolah kami.
“ Hai Sha!! Ngapain disini?? Nemenin Jias jualan Koran??”,katanya.
“ Maksud kamu??”,tanyaku sedikit bingung.
“Kamu sadar dong,, kamu tuch gag pantes bergaul dengan dia. Apalagi duduk bersanding dengan dia, di halte lagi, yang banyak orang kayak gini. Apa Kamu gag malu?Kalau aku jadi kamu sich bakalan malu banget.”
“Kamu kok ngomong gitu sich? Gag sopan tahu…!”,jawabku. Aku mengusir temanku itu. Ku lihat wajah Jias sangat sedih. Aku pun mencoba menghiburnya. Memang dasar Jias. Dia masih bisa tersenyum. Kalau aku, sudah aku tampar wajahnya.
“Aku sedih bukan karena ucapannya kok Sha. Aku sedih, karena aku sadar aku memang gag pantes berteman dengan kamu. Kamu anak pengusaha besar,, sementara aku, cuma jualan Koran di pinggir jalan.”
“ Kamu ngomong apa sich Ji? Aku gag pernah membeda-bedakan teman kok, aku malah senang berteman dengan kamu. Lagian, kamu tahu kan aku paling gag suka kalau membanding-bandingkan harta. Kita semua sama di mata Tuhan. So, jangan dengerin perkataan Bika tadi ya!!”
***
Malam harinya, saat aku sedang pergi dengan orangtuaku, aku melihat Jias bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan. Jujur, aku sedih sekali melihatnya. Jias harus bekerja di tengah kesibukannya belajar untuk ujian akhir yang tinggal beberapa bulan saja. Tapi, apa yang bisa aku lakukan?? Aku hanya bisa berdo’a kepada Tuhan semoga dia dapatkan semua keinginannya. Esok harinya, di sekolah, aku menjumpai Jias sedang tertidur di tempat duduknya. Aku tahu,dia pasti lelah sekali setelah bekerja semalaman.
Satu bulan berlalu, batas waktu penyerahan formulir pendaftaran tinggal satu minggu lagi. Aku sudah menyerahkan formulirku kepada panitia, tapi aku tidak melihat ada berkas formulir Jias disana. Aku takut jika Jias gagal mendapatkan uang, karena aku tahu kalau Jias sangat menginginkan beasiswa itu.
Satu minggu pun sudah berlalu, aku semakin resah, apa Jias bisa mendapat uang itu dalam waktu yang sangat singkat??. Uang sebesar itu mana bisa terkumpul dengan cepat, bayangkan saja, berapa gaji seorang loper Koran? Berapa besar gaji yang harus diterima Jias dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah warung makan yang amat kecil?. Semua itu tak akan cukup. Sebenarnya, jika ia tidak mendapatkannya, aku sudah menyiapkan uang untuk kupinjamkan kepadanya. Itupun kalau Jias mau. Karena aku tahu Jias takkan mau diberikan secara cuma-cuma. Waktu pendaftaran hanya tinggal beberapa jam saja, aku menunggu Jias di depan ruang panitia. Tak lama kemudian Jias datang, dan dia berkata kalau dia telah berhasil mengumpulkan uang dan dapat mengikuti program beasiswa itu.
***
Ujian telah selesai, pengumuman kelulusan pun sudah keluar. Kami lulus dengan nilai yang cukup baik. Kemudian kepala sekolah memberitahu bahwa tiga siswa di sekolahku diterima untuk melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi ternama di Jerman itu. Dan dua diantaranya adalah aku dan Jias. Aku senang sekali, bukan hanya karena aku diterima di fakultas yang kuinginkan, tapi juga karena aku bisa melihat Jias membuktikan pada teman-teman yang sudah merendahkannya. Semua jelas sekarang, usaha yang gigih dan semangat yang tinggi bisa membawa kita kepada keberhasilan. Kegigihan Jias untuk mengejar cita-cita di tengah kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan patut untuk ditiru. Aku dapat meraih cita-cita karena Jias. Jias mengajariku betapa pentingnya semangat juang meraih sesuatu. Uang bukan segalanya. Ada uang tapi tidak disertai perjuangan dan do’a, untuk apa??
Setelah mendengar pengumuman itu, aku dan Jias segera pergi menuju rumah Jias. Kedua orangtuanya senang mendengar Jias berhasil meraih impiannya. Mereka menangis. Namun tangisan itu bukanlah tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan. Waktu menunjukkan pukul empat sore, aku berpamitan kepada keluarga Jias untuk pulang. Sampai di rumah, aku memberitahu ayah dan ibuku kalau aku berhasil meraih beasiswa ke Jerman. Mereka pun sama senangnya dengan keluarga Jias. Setelah itu, aku segera menuju kamarku untuk membereskan barang-barang yang akan ku bawa ke Jerman nanti. Aku senang sekali.
Setelah melewati beberapa prosedur untuk menjadi mahasiswa, aku dan Jias pun pergi ke Jerman bersama. Aku berharap aku dan Jias bisa belajar dengan sungguh-sungguh dan berhasil meraih cita-cita kami.
By : Lisa Apriyani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar