Selasa, 25 Oktober 2011

"PeLaYaRan NakoDa"

Suatu hari, orang-orang terpilih berdatangan ke dermaga menuju sebuah kapal pesiar yang amat mewah yang dikenal dengan nama Nakoda. Sebuah kapal yang hanya bisa ditumpangi oleh orang-orang terpilih yang mempunyai kriteria tertentu. Mulai dari kalangan bangsawan, ilmuwan, seniman, hingga olahragawan. Mereka yang terpilih, mendapat kesempatan untuk berlayar bersama Nakoda.

Setelah semua naik ke dalam kapal, Nakoda pun siap untuk mengarungi samudera. Dan pelayaran pun dimulai. Suasana yang nyaman, fasilitas yang lengkap, juga orang-orang yang ramah membuat pelayaran semakin indah dan berkesan.

Hari demi hari dilalui bersama Nakoda. Banyak kisah terukir dalam pelayaran itu. Penumpang satu dan lainnya pun semakin dekat. Saling bahu-membahu menciptakan kenyamanan dan keindahan dalam pelayarannya, saling bekerjasama dalam mengembangkan profesinya. Seniman-seniman mempersembahkan karya-karyanya untuk menghibur para penumpang. Mulai dari musisi yang mempersembahkan keindahan musikalitasnya, aktor dan aktris yang menghibur dengan kemurnian aktingnya, para pelukis yang menyajikan karya-karyanya yang memukau. Ilmuwan-ilmuwan pun membuat alat-alat canggih yang membantu mempermudah penumpang lainnya dalam bekerja.

***

Di suatu malam, angin yang bertiup sangat kencang membuat para penumpang mengencangkan mantelnya. Setiap sudut kapal terasa dingin. Suara desiran ombak membuat suasana malam semakin mencekam. Tiba-tiba saja dari arah barat laut datang badai besar menghantam kekokohan Nakoda. Semua penumpang berteriak, ada yang menangis, semua berharap agar mereka dapat bertahan dalam menghadapi badai yang menerjang Nakoda. Kapten kapal berusaha menenangkan penumpang. “ Jangan panik, semua bisa diatasi.”, kata sang kapten.

Melihat penumpang masih merasa takut, kapten berusaha untuk menenangkan mereka dengan mengatakan apa yang disampaikan para ilmuwan berdasarkan penelitian mereka kepadanya. “ Penumpang diharapkan tenang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan, badai ini tidak akan menghancurkan Nakoda. Badai ini hanya badai biasa yang terjadi di lautan saat hujan atau cuaca buruk. Badai akan berakhir saat cuaca berangsur normal.”

Setelah mendengar hal itu, para penumpang berusaha untuk tenang. Malam berikutnya, badai masih tetap ada. Penumpang berusaha untuk tetap tenang sesuai kata-kata kapten kapal. Namun, malam-malam berikutnya badai masih tetap terjadi. Bahkan semakin mengerikan. Kepercayaan penumpang terhadap ilmuwan yang meneliti badai tersebut mulai pudar. Banyak yang tidak percaya dengan analisis yang diberikan para ilmuwan tersebut. Akhirnya, terjadi perselisihan antar sesama penumpang. Penumpang yang percaya dengan para ilmuwan tetap tenang dan menganggap badai itu hanya badai biasa. Sementara penumpang lain yang tidak percaya mendesak kapten untuk meminta bantuan dan memaksa para ilmuwan untuk meneliti ulang penelitian yang sudah mereka lakukan dan meminta mereka untuk membuat alat yang dapat melindungi Nakoda dari terjangan badai tersebut.

***

Seminggu berlalu, badai masih terjadi. Hampir separuh badan kapal mengalami kerusakan. Penumpang satu dan lainnya saling mempertahankan pendapat mereka. Pertentangan tak dapat dihindarkan. Terjadi perpecahan antara dua kelompok. Kelompok yang percaya dan yang tidak percaya terhadap penelitian ilmuwan. Yang percaya tetap mendukung penelitian para ilmuwan, mereka yang tidak percaya berusaha mencari cara untuk menyelamatkan diri. Dengan bantuan biaya yang diberikan bangsawan-bangsawan yang mendukung mereka, mereka bekerjasama membuat sebuah kapal kecil yang bisa membantu mereka keluar dari hantaman badai mengerikan itu. Dengan dilengkapi alat untuk melindungi kapal kecil itu dari terjangan badai. Seniman-seniman yang tergabung dalam kelompok itu bekerja membuat desain kapal yang akan mereka buat. Mereka berusaha membuat desain sebaik-baiknya agar dapat menyelamatkan diri mereka. Sementara itu, penumpang-penumpang yang jago berolahraga berusaha mengumpulkan papan-papan yang tidak terpakai dari dalam gudang kapal untuk membuat kapal sesuai desain dari para seniman. Sementara itu, kelompok yang percaya terhadap ilmuwan mulai ragu dengan hasil penelitian mereka. Satu per satu dari mereka memutuskan untuk membantu pembuatan kapal yang akan digunakan untuk menyelamatkan mereka.

Setelah hampir dua minggu melakukan penelitian, para ilmuwan akhirnya menyadari bahwa mereka telah salah dalam menjalankan prosedur penelitian mereka. Akhirnya mereka menemukan fakta bahwa badai yang selama ini mereka amati bukanlah badai biasa, melainkan badai yang dapat menghancurkan kapal sekokoh Nakoda yang selama ini dikenal sebagai kapal terkuat yang pernah ada di dunia.

Awalnya, penumpang lainnya kecewa terhadap sikap para ilmuwan, tapi mereka sadar bahwa mereka berada pada posisi yang sama. Posisi dimana mereka harus melawan maut yang kini menghantui mereka. Mereka terus berusaha mengatasi berbagai kemungkinan yang akan mereka hadapi di kemudian hari sampai mereka benar-benar selamat dari badai tersebut. Mereka berusaha memperbaiki kerusakan-kerusakan yang dialami Nakoda sambil membuat kapal-kapal kecil yang akan mereka gunakan apabila alat yang mereka ciptakan untuk melindungi Nakoda tidak berhasil.

Lebih dari dua minggu mereka berada dalam maut. Mereka mencoba membangun kerjasama untuk mendapatkan hasil terbaik. Berbagai cara mereka lakukan, dengan mengumpulkan barang-barang bekas yang masih bisa mereka gunakan, mereka membuat pelindung kapal semampu mereka. Berbagai kendala mereka hadapi. Mulai dari kehabisan bahan-bahan untuk kapal kecil mereka, hingga kekurangan bahan makanan.

Tapi, dengan semangat yang mereka punya, mereka dapat menghadapi segala masalah yang menghalangi mereka. Rasa lapar yang mendera tak lagi mereka pikirkan. Bahan-bahan yang mereka perlukan, mereka dapat dari barang-barang yang mereka bawa untuk berlayar. Semua barang yang mereka bawa, mereka kumpulkan dan sebisa mereka, mereka rangkai semua barang itu menjadi sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk melengkapi kekurangan-kekurangan dalam pembuatan kapal kecil maupun perbaikan Kapal Nakoda yang amat mereka cintai.

Beberapa hari kemudian, pekerjaan mereka berhasil diselesaikan. Sebagian penumpang Nakoda berhasil keluar dari badai dengan menggunakan beberapa kapal kecil yang mereka buat. Sebagian lagi berusaha memperbaiki Nakoda dan membawanya keluar dari badai. Sebagian penumpang yang selamat berusaha meminta bantuan kepada penduduk yang ada di pulau terdekat.

Dengan bantuan penduduk dan tim penyelamat yang berhasil mereka hubungi, mereka menyelamatkan sebagian korban lainnya dan berhasil membawa Nakoda keluar dari ancaman badai. Setelah berhasil selamat, mereka semua mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala pelajaran yang mereka dapatkan. Setelah itu, mereka berusaha untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan Nakoda bersama-sama. Dan yang terpenting adalah kerjasama mereka dalam menghadapi semua rintangan dalam pelayaran mereka. Dengan kerjasama, seberat apapun dan sesulit apapun rintangan yang menghadang mereka, semua akan terasa ringan.

Oleh: Lisa Apriyani

-Tentang Jias-

Jias, seorang remaja berusia 17 tahun yang berasal dari keluarga yang sangat sederhana, yang beruntung mendapat beasiswa untuk belajar di sekolahku di Bogor. Arsitek adalah cita-citanya. Meskipun selalu diremehkan oleh teman-temannya karena cita-citanya itu, dia tak pernah berhenti mengejar mimpinya. Hanya senyum manis yang tulus dilontarkan dari bibirnya. Tidak pernah takut untuk mencoba apapun walau itu pahit, itu lah Jias.

Hari itu, Senin, kulihat Jias sedang menangis di sudut sekolah. Sebelumnya, saat dia sedang membaca buku di kelas, tiba-tiba datang siswa lain yang tidak suka akan keberadaan Jias di sekolah, merebut buku yang sedang dibacanya, kemudian merobek dan membakarnya. Sambil mencaci Jias dengan kata-kata yang menurutku menyakitkan. Entah apa maksudnya mengucapkan itu, tapi yang jelas, siswa itu mencacinya dengan mengatakan bahwa orang miskin seperti Jias tidak akan bisa meneruskan cita-citanya, ia takkan mampu membayar biaya pendidikan yang semakin mahal. Wajar jika ucapan itu membuat Jias sedih. Tapi, setelah kutahu, Jias sedih bukan karena itu, tapi karena dia harus kehilangan buku kesayangannya.

***

Jias baik sekali padaku, dia mengajariku banyak hal. Memberi tahuku tentang arti kehidupan. Karena itu, aku berusaha untuk menghiburnya. Aku berpikir bahwa satu-satunya cara untuk membuat Jias tersenyum kembali adalah membelikan buku yang sama seperti miliknya.

Esok harinya, kuberikan buku itu kepadanya. Tapi dia menolak. Kali ini aku tahu mengapa ia sangat sedih saat kehilangan bukunya, buku itu amat berarti baginya. Buku itu adalah pemberian kakek yang amat dicintainya. Kakeknyalah yang selalu memberinya semangat untuk mengejar cita-citanya. Dia mengembalikan buku yang kuberikan kepadaku.

Hari-hari berlalu, kulihat senyum manis Jias kembali. Jias memang orang yang tabah. Kehilangan buku kesayangannya bukan berarti dia harus berhenti berjuang. Pulang sekolah ku ajak Jias ke toko buku untuk menemaniku membeli beberapa buku. Diperjalanan, di sudut pasar yang ramai akan pengunjung, tiba-tiba saja Jias berhenti, menatap sebuah poster bergambar Albert Einstein, seorang ilmuwan yang terkenal dengan teori relativitasnya.

Jias berbisik kepadaku,”suatu saat aku pasti bisa seperti dia, aku yakin itu”.

Aku hanya diam mendengarnya. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke toko buku. Aku berniat membelikan Jias sebuah buku tentang desain bangunan. Aku yakin buku itu akan sangat membantu Jias untuk berkreasi lebih baik lagi. Setelah membeli beberapa buku, kami pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, aku memikirkan ucapan Jias. Semangatnya mengejar cita-cita begitu tinggi, aku yakin suatu hari dia akan buktikan pada dunia bahwa dia bisa mencapai cita-cita yang diinginkan, yaitu arsitek, tanpa keluar biaya yang tinggi. Karena dia tak mau merepotkan orangtuanya.

***

Suatu hari, kepala sekolah mengumumkan beasiswa untuk belajar di Universitas ternama di Jerman. Jias pun mencoba untuk mendaftar. Teman-teman lain bertanya apa Jias bisa mendapat beasiswa itu?? Orang miskin seperti dia mana bisa membayar biaya pendaftaran yang begitu mahal baginya. Aku ingin sekali membantunya membayar biaya itu, tapi dia selalu menolak bantuanku. Jias berusaha mencari uang dengan bekerja, membanting tulang untuk mendapat uang sebesar dua juta rupiah. Pulang sekolah kulihat Jias sedang menjajakkan Koran di lampu merah. Aku pun menghampirinya. Kami berdua duduk di sebuah halte bus yang tak jauh dari lampu merah itu. Saat kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang salah satu teman sekolah kami.

“ Hai Sha!! Ngapain disini?? Nemenin Jias jualan Koran??”,katanya.

“ Maksud kamu??”,tanyaku sedikit bingung.

“Kamu sadar dong,, kamu tuch gag pantes bergaul dengan dia. Apalagi duduk bersanding dengan dia, di halte lagi, yang banyak orang kayak gini. Apa Kamu gag malu?Kalau aku jadi kamu sich bakalan malu banget.”

“Kamu kok ngomong gitu sich? Gag sopan tahu…!”,jawabku. Aku mengusir temanku itu. Ku lihat wajah Jias sangat sedih. Aku pun mencoba menghiburnya. Memang dasar Jias. Dia masih bisa tersenyum. Kalau aku, sudah aku tampar wajahnya.

“Aku sedih bukan karena ucapannya kok Sha. Aku sedih, karena aku sadar aku memang gag pantes berteman dengan kamu. Kamu anak pengusaha besar,, sementara aku, cuma jualan Koran di pinggir jalan.”

“ Kamu ngomong apa sich Ji? Aku gag pernah membeda-bedakan teman kok, aku malah senang berteman dengan kamu. Lagian, kamu tahu kan aku paling gag suka kalau membanding-bandingkan harta. Kita semua sama di mata Tuhan. So, jangan dengerin perkataan Bika tadi ya!!”

***

Malam harinya, saat aku sedang pergi dengan orangtuaku, aku melihat Jias bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan. Jujur, aku sedih sekali melihatnya. Jias harus bekerja di tengah kesibukannya belajar untuk ujian akhir yang tinggal beberapa bulan saja. Tapi, apa yang bisa aku lakukan?? Aku hanya bisa berdo’a kepada Tuhan semoga dia dapatkan semua keinginannya. Esok harinya, di sekolah, aku menjumpai Jias sedang tertidur di tempat duduknya. Aku tahu,dia pasti lelah sekali setelah bekerja semalaman.

Satu bulan berlalu, batas waktu penyerahan formulir pendaftaran tinggal satu minggu lagi. Aku sudah menyerahkan formulirku kepada panitia, tapi aku tidak melihat ada berkas formulir Jias disana. Aku takut jika Jias gagal mendapatkan uang, karena aku tahu kalau Jias sangat menginginkan beasiswa itu.

Satu minggu pun sudah berlalu, aku semakin resah, apa Jias bisa mendapat uang itu dalam waktu yang sangat singkat??. Uang sebesar itu mana bisa terkumpul dengan cepat, bayangkan saja, berapa gaji seorang loper Koran? Berapa besar gaji yang harus diterima Jias dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah warung makan yang amat kecil?. Semua itu tak akan cukup. Sebenarnya, jika ia tidak mendapatkannya, aku sudah menyiapkan uang untuk kupinjamkan kepadanya. Itupun kalau Jias mau. Karena aku tahu Jias takkan mau diberikan secara cuma-cuma. Waktu pendaftaran hanya tinggal beberapa jam saja, aku menunggu Jias di depan ruang panitia. Tak lama kemudian Jias datang, dan dia berkata kalau dia telah berhasil mengumpulkan uang dan dapat mengikuti program beasiswa itu.

***

Ujian telah selesai, pengumuman kelulusan pun sudah keluar. Kami lulus dengan nilai yang cukup baik. Kemudian kepala sekolah memberitahu bahwa tiga siswa di sekolahku diterima untuk melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi ternama di Jerman itu. Dan dua diantaranya adalah aku dan Jias. Aku senang sekali, bukan hanya karena aku diterima di fakultas yang kuinginkan, tapi juga karena aku bisa melihat Jias membuktikan pada teman-teman yang sudah merendahkannya. Semua jelas sekarang, usaha yang gigih dan semangat yang tinggi bisa membawa kita kepada keberhasilan. Kegigihan Jias untuk mengejar cita-cita di tengah kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan patut untuk ditiru. Aku dapat meraih cita-cita karena Jias. Jias mengajariku betapa pentingnya semangat juang meraih sesuatu. Uang bukan segalanya. Ada uang tapi tidak disertai perjuangan dan do’a, untuk apa??

Setelah mendengar pengumuman itu, aku dan Jias segera pergi menuju rumah Jias. Kedua orangtuanya senang mendengar Jias berhasil meraih impiannya. Mereka menangis. Namun tangisan itu bukanlah tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan. Waktu menunjukkan pukul empat sore, aku berpamitan kepada keluarga Jias untuk pulang. Sampai di rumah, aku memberitahu ayah dan ibuku kalau aku berhasil meraih beasiswa ke Jerman. Mereka pun sama senangnya dengan keluarga Jias. Setelah itu, aku segera menuju kamarku untuk membereskan barang-barang yang akan ku bawa ke Jerman nanti. Aku senang sekali.

Setelah melewati beberapa prosedur untuk menjadi mahasiswa, aku dan Jias pun pergi ke Jerman bersama. Aku berharap aku dan Jias bisa belajar dengan sungguh-sungguh dan berhasil meraih cita-cita kami.

By : Lisa Apriyani

Selasa, 14 Juni 2011

Jika senyummu hilang,,,
cobalah untuk bisa berbaur dg tman2 mu...
n cobalah ikut merasakan apa yg mreka rasa...

Jumat, 07 Januari 2011

aq mulai lelah. . .

aq mulai lelah, aq hampir tiba d ujung ksbran q,,

aq tk sanggup tuk trus mmbuka mata q, mnatap, mnyksikan brbgai aktivitas yg ada,

aq tk mampu tuk trus mlangkahkan kaki q, , ,

apa yg hrz q lkukan tuk mgmblikan snyum q, , ,?

_'DENGARLAH AQ. . .

Hr ini, aq bljar akn 1hal, mghargai arti sbuah prjuangan, ,
saat qt brjuang, sndiri, tnpa ada 1pun tman, n mrasakan kelelahan yg amat sangat. . .
saat qt brjuang utk mreka, n qt dptkn hsl yg maksimal, , ,
tp tk seorg pun dr mrka mndkung qt, , qt brjuang smampu qt, smpai gelap ny hari mmbutakan mta qt, n ntah apa yg mrka lakukan, , qt tk tw, bhkn, sekedar ucpan smangat pun tk qt dngar dr mrka, . .
Tp kni, saat qt dpt memetik buah hsl prjuangan qt, mrka ingin jga mrasakan i2, bhkan lbh dr apa yg qt dptkn, , ,
hal ini mmbwt q tk mgerti, ,
TAK BSKAH MREKA MENGHARGAI JERIH PAYAH QT? ? Stdakny, biarkan qt nikmati hsl yg qt dpt, walau hny 50% dr smw ny. . .
DENGAR AQ KAWAN. . .

Tentang PeRasaAn Q...

Ini smw tentang prasaan q, , .
Prasaan yg tk mnentu saat q jmpa drinya, , ,
saat mmandang wajah ny yg lmbut, ht q brgetar, , ,
saat mndengar suara ny, aq trpaku, , ,
namun, aq tk mampu tuk mnatap mata ny, psona ny yg bgtu mmikat, mmbwt q tkut tuk jtuh lbh dlm. . .
Mgkn, , byk yg blg skap q ini sdkt "LEBAY", bkan aq yg biasa, bkn ini yg q mw sbnrny, tp saat mlihat ny, aq sperti trsihir. . .
Sperti hlg ksadaran. . .

Mgknkah dy tw akan prasaan q ini? ? ?